[Cerpen] Fall For You

2/17/2013 01:28:00 PM desie okvita 0 Comments


Fall For You

Rintik – rintik air datang silih berganti, saling menyusul untuk membasahi bumi. Dinda, seorang gadis dengan seragam SMAnya berdiri di pinggir jalan menunggu bus yang akan membawanya ke sekolah. Ia sangat membenci hujan. Karena hujan semua aktifitas yang akan ia kerjakan akan menjadi terhambat. Seperti pagi ini, ia harus menunggu bus lagi yang akan mengantarkannya ke sekolah karena bus sebelumnya sudah penuh dan sesak. Semua orang mungkin lebih memilih naik angkutan umum daripada memakai montor mereka saat hujan sederas ini.
“Huh, kenapa lama sekali?” keluh Dinda.
Ia berdiri untuk melihat Bis lagi, Tapi belum ada tanda Bus datang, hanya terlihat mobil berwarna merah yang melaju cukup kencang kearahnya. Dinda hendak berbalik untuk duduk kembali tapi tiba – tiba ia merasakan basah pada punggungnya disertai dengan suara dengungan mobil yang berhenti.
Dinda menggenggam kedua tangannya dengan kuat. Ia berbalik dan mendapati seorang cowok mengintip dari mobil merahnya.
“Sorry, aku tidak sengaja,” Ujar cowok itu tanpa bersalah sedikitpun.
Dinda masih diam saja, rahangnya mengeras dan ia semakin mengepalkan genggamannya dengan kuat.
Cowok itu semakin mengerutkan dahinya melihat
orang yang diajak bicara hanya diam saja. Ia melirik jam tangannya sekilas lalu menatap gadis yang ada di luar mobilnya. “Aku rasa kamu gak apa – apa, maaf aku terburu – buru,” kata cowok itu. Ia menutup jendela mobilnya lalu pergi dari tempat itu.
Dinda menatap mobil yang perlahan – lahan pergi meninggalkan tempat itu “YAAA, COWOK KURANG AJAR, AWAS SAJA KALAU KITA KETEMU LAGI. AKU AKAN BUAT PERHITUNGAN SAMA KAMU,” Teriak Dinda dengan suara yang sangat keras sampai orang – orang yang ada disekitarnya memperhatikan tingkahnya.
“Tidak, aku tidak mau bertemu dengannya lagi. cukup satu kali ini saja,” gumam Dinda pada dirinya sendiri “Aisshh, aku harus mengganti bajuku sekarang juga,” keluhnya sambil melihat baju bagian belakangnya penuh noda berwarna coklat.
**************
            Dinda berlari – lari dikoridor sekolah sesekali memperhatikan jam tangannya. Ia sudah terlambat 15 menit, dengan berbagai alasan dan rayuan Ia bisa lolos dari Pak Min, sang satpam sekolah. Tapi entahlah dengan Pak Darto, guru matematikanya yang terkenal disiplin dan sangat keras mendidik para muridnya.
            Dinda jadi ingat kejadian beberapa minggu lau. Pernah Rino, teman sekelas Dinda terlambat 5 menit. Alasannya sih, ban motornya kempes di tengah jalan menuju sekolah. Tapi karena Pak Darto tidak mau menerima alasan apapun itu, Rino jadi kena hukuman lari keliling lapangan basket 10 kali.
            ‘Jika Rino yang telat 5 menit saja lari keliling lapangan 10 kali, bagaimana aku yang sudah telat 15 menit? Bisa-bisa aku didepak dari kelas. Tidak. Aku tidak mau didepak keluar kelas.’ Batin Dinda dalam hati. Ia semakin mempercepat larinya menuju lantai dua. Setibanya disana, terlihat Pak Darno menerangkan pelajaran sambil menulis dipapan tulis.
            Dengan keberanian yang kuat, Dinda mengetuk pintu kelas yang terbuka. Semua orang yang ada dikelas pun menoleh kearah pintu.
            “Ehm maaf Pak. Sa – Saya terlambat,” Ujar Dinda dengan tergagap-gagap.
            “Dinda Aninditya, Apa kau tidak lihat? Sekarang sudah jam berapa? apa alasanmu ,huh?” tanya Pak Darto sambil berkacak pinggang.
            “Saya, Sa-Saya terkena kecelakaan kecil saat menunggu bus, pak?” Pak Darto mengerutkan dahinya “Maksud saya, em... sebuah mobil melaju dengan kencang dijalanan dan saat itu saya sedang berada dipinggir jalan tepat di depan genangan air. Mobil itu melaju di depan saya dan juga tepat melewati genangan air, sehingga baju saya jadi kotor dan basah. Jadinya saya kembali untuk mengganti pakaian saya. Begitu , Pak.” Jelas Dinda dengan sedetail-detailnya.
            “Ah, begitukah? Kalau begitu kamu tunggu saja di luar,”
“Apa?”
“Kau tidak dengar? Tunggu diluar sampai pelajaranku selesai,” bentak Pak Darto sambil menunjuk arah pintu. Dinda keluar kelas sambil menundukkan kepalanya. Tepat saat didepan pintu Pak Darto memanggilnya lagi.
“berdiri disamping pintu, sambil mengangkat kedua tanganmu diatas kepala,”
“Ha?”
“Cepat lakukan saja,” teriak Pak Darto lagi yang hanya dibalas anggukan oleh Dinda. Baru berjalan beberapa menit, Pak Ranto Kepala sekolah SMA Pelita Harapan berjalan menuju kelasnya bersama seorang cowok.
Tanpa memperdulikan Dinda, Pak Ranto masuk kedalam kelas diikuti oleh cowok tadi.
Dinda mengerutkan dahinya ‘Ah, sepertinya aku pernah lihat cowok tadi, tapi dimana ya?’ pikr Dinda, Ia berpikir keras dan mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan cowok tadi.
“Hallo, nama saya Dimas Dewanta pindahan dari Amerika. Senang berkenalan dengan kalian”
Terdengar suara cowok memperkenalkan diri. ‘yaa, itu cowok kurang ajar tadi,” batin Dinda dalam hati, Ia teringat cowok yang ada didalam mobil merah tadi, yang berhasil membuatnya terlambat kesekolah.
**********
Dinda duduk tepat di depan meja Bu Linda, guru bahasa inggrisnya. Tak  lama kemudian datanglah Dimas memberi salam lalu dipersilahkan duduk disamping Dinda.
‘mau apa dia juga ada disini?’ batin Dinda. Sampai sekarang setelah seminggu lebih terlewati, Ia benci dengan Dimas karena kejadian itu. Sampai sekarang pun Ia belum bisa menemukan cara yang bagus untuk membalasnya.
“Apa kalian tahu kenapa saya memanggil kalian kesini?” tanya Bu Linda yang hanya dijawab gelengan oleh keduanya.
“Kalian sudah saya daftarkan kedalam lomba writing yang mewajibkan pesertanya dua orang satu tulisan untuk tahun ini. Saya pikir karena Dimas pindahan dari Amerika, jadi saya yakin ia mahir dalam bahasa inggris. Dan juga mengingat Dinda yang tahun lalu  menang mengikuti lomba. Jadi saya pikir ini kolaborasi yang apik untuk mendapatkan kemenangan. Kalian tidak keberatan kan?” jelas Bu linda lalu memandang keduanya sambil tersenyum.
‘Mimpi buruk apa yang kamu berikan kepadaku Ya Tuhan?’ batin Dinda.
*****************
“Kita sudah mendiskusikan ini beberapa kali tapi belum juga menentukan tema apa yang akan diangkat pada tulisan kita. Bagaimana ini?” gerutu Dinda sambil mengacak-acak rambutnya. Ia menoleh kesamping dan mendapati Dimas asik dengan PSPnya.
“Plukkk” Dinda memukul kepala belakang Dimas dengan blocknotenya.
“Yaa, Sakit tahu!!”
“Salah sendiri mainan PSP. Kita ada disini kan untuk mendiskusikan tema tulisan kita. Aku hampir frustasi dibuatnya, bagaimana jika Bu Linda bertanya kepada kita besok?”
“Bilang saja belum tahu. Gampang kan?”
“Seenaknya saja kamu bilang seperti itu? Kamu gak tahu seberapa pentingnya lomba ini bagiku!” bentak Dinda lalu berlalu pergi.
*************
Dinda berjalan dengan lesu ke arah ruang guru. ‘apa yang harus aku katakan kepada Bu Linda bahwa aku belum menemukan tema yang cocok untuk bahan tulisan?’ pikir Dinda dalam hati.
“Akhirnya kau datang juga, tema kalian sangat bagus,” kata Bu Linda tiba – tiba, Dinda mengerutkan keningnya. “Ibu ada beberapa refrensi yang berkaitan dengan tulisan kalian dan akan lebih baik lagi jika kalian melakukan observasi dilapangan. Kapan kalian akan mengerjakannya?” lanjut Bu Linda sambil menyerahkan beberapa buku ke Dinda.
“Ah..itu... secepatnya. Ya.. secepatnya kami akan mengerjakannya,” jawab Dinda tergagap – gagap sambil mengerutkan dahinya.
**************
“Yaa.. Hati – hati,” Ujar Dimas yang menyelamatkan Dinda agar tidak jatuh. Ia memandang ke arah mata Dinda dan tak lama kemudian ia tersadar bahwa ia sedang memegang pinggang Dinda karena menyelamatkannya tadi. Dimas melepaskan tangannya dari pinggang Dinda. Keduanya saling terdiam dan enggan untuk berkata.
Disinilah mereka selama 3 hari terakhir, tempat pemukiman kumuh di Jakarta untuk melakukan observasi bahan tulisan mereka. Tema yang dipilih oleh Dimas tanpa persetujuan Dinda terlebih dahulu. Dinda juga tidak bisa mengubah tema tersebut karena Bu Linda juga sudah menyetujui tema mereka.
“Jangan terluka. Aku akan khawatir,” ujar Dimas pelan. Dinda menoleh dan mendapati Dimas yang hanya memandang kearah depan. “Ayo, kita selesaikan ini dengan cepat,” lanjut Dimas lulu menarik tangan Dinda. “Seharusnya aku tidak memilih tema ini, ini sangat berbahaya baginya” gerutu Dimas pelan yang masih terdengar jelas ditelinga Dinda.
Dinda terkejut dengan perkataan Dimas tadi. Ia menatap punggung Dimas lalu turun kebawah dimana tanganya digenggam erat oleh Dimas. ‘Hangat,’ batin Dinda dalam hati ‘Ke-kenapa jantungku berdetak begitu cepat? Apa aku mulai menyukainya?’ Dinda memegang jantungnya yang terasa berdetak dengan cepat ‘Tidak, Aku tidak mungkin menyukainya. Tidak mungkin,’ batin Dinda sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.
“Kenapa? Apa tadi itu ada yang sakit?” tanya Dimas khawatir sambil memegang bahu Dinda.
“Eh... Tidak. Aku baik – baik saja. Benar.” Ujar Dinda sambil menunjukkan jari tengah dan jari telunjuknya membentuk huruf V serta tersenyum manis.
*************
Dinda sedang membaca Novel dikelas dan terkejut saat tiba – tiba Dimas ada didepannya.
“Mengagetkanku saja, ada apa? apa tulisan kemarin ada yang salah atau tidak sesuai denganmu?” tanya Dinda khawatir. Dimas hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
“Lalu apa? kamu tidak lihat aku sedang sibuk?” Ujer Dinda sambil mengembungkan pipinya.
“Apa aku tidak boleh mengobrol denganmu, sementara cowok yang lain bisa? Apa kita hanya bisa membicarakan yang itu – itu saja ,Hm?” tanya Dimas beruntut sambil duduk didepan meja Dinda.
“Ha?”
“Aku jemput nanti jam 4 sore!”
“Apa?”
“Jangan membiarkanku menunggu lama,” bisik Dimas di telinga Dinda lalu pergi meninggalkan Dinda yang terbengong – bengong.
‘kenapa denganku? Kenapa jantungku berdetak semakin cepat bila berdekatan dengannya?’ pikir Dinda frustasi dengan dirinya akhir – akhir ini.
**************
 “Mau bicara apa? sepertinya penting sekali hingga tidak bisa dibicarakan di sekolah.” ungkap Dinda yang heran saat Dimas menariknya menjauh dari kerumunan. Sebenarnya Ia ingin cepat pulang dan memberitahu orang tuanya kalau mereka menang dalam lomba writing.
“Maaf, hal ini tidak bisa dibicarakan disana,”
“Lalu kamu mau bicara apa?” tanya Dinda lagi. Dimas menegapkan duduknya, dan terlihat sekali dari mukanya yang berubah menjadi serius.
“Mungkin ini terlalu cepat dan terburu-buru untuk mengatakannya mengingat kita yang baru saling mengenal kurang dari dua bulan. Tapi entah kenapa jika aku berada didekatmu sangat nyaman, jantungku berdebar – debar, aku pun menjadi salah tingkah jika berada didekatmu,” Dimas menghela napas panjang lalu memegang tangan Dinda “Mungkin kamu akan menganggapku cowok kurang ajar atau apalah terserah kamu, tapi...” Dimas mengambil kedua tangan Dinda lalu menggenggamnya.
Dimas menghela napas panjang “Aku sama sekali tidak bisa merangkai kata – kata yang romantis dan aku bukan cowok romantis yang kebanyakan cewek dambakan. Hanya saja aku punya cinta yang saat ini terikat oleh seorang gadis. Seolah – olah dia menjadi kebutuhanku. Oksigenku. Apa kamu tahu siapa gadis itu? Tanya Dimas sambil memendang mata Dinda dengan dalam.
Dinda menggelengkan kepalanya. Tapi ia tahu jawaban dari pertanyaan Dimas. Hanya saja ia tidak ingin terlalu percaya diri bahwa dirinyalah gadis yang dimaksud Dimas.
“Kamu...” Dimas semakin mempererat genggamannya “Kamu gadis yang berhasil mendapatkan hatiku. Kau berhasil membuatku untuk tidak berjauhan darimu,”
“Kenapa aku? Bukankah ada yang lebih baik?” tanya Dinda gemetar
“Sayangnya tidak. Aku sudah mencoba berpikir berkali – kali. Lalu kalau ada gadis yang lebih cantik dan baik darimu lalu kenapa? Aku tidak keberatan dengan segala kekurangan yang kau miliki. Tanpa ku sadari mataku hanya melihatmu saja dari berjuta – juta gadis yang lain. Aku juga tidak tahu kenapa,” Dimas menghela nafas keras “aku rasa akan sangat menyenangkan jika bisa bersamamu. Jadi ???”
Dimas menanti jawaban dari Dinda. Dinda menundukan wajahnya. Ia sangat tersanjung dengan kata – kata Dimas tadi. Itu lebih dari romantis. Dinda berpikir bahwa Dimas bohong jika Ia tidak bisa merangkai kata yang romantis.
Dimas melihat anggukan dari Dinda. Ia melihat ke bola mata gadis itu yang berbinar bahagia. “Terima kasih. Mulai saat ini tidak ada yang bisa mendekatimu, karena kamu miliku,” Dimas mempererat pelukannya ke Dinda.
***********
Siapa yang menyangka bahwa Dimas dan Dinda berpacaran? Padahal mereka baru kenal kurang dari dua bulan apalagi Dinda. Ia sangat selektif dan hati – hati memilih pacar. Saat kejadian pada tahun pertamanya di SMA, ia dikhianati oleh pacarnya sendiri. Dinda memergokinya bermesraan dengan gadis lain. Setelah itu, Ia sangat enggan untuk berpacaran kembali. Semua cowok yang menembaknya akan ditolak mentah – mentah.
Dinda berjalan menyusuri koridor sambil tersenyum. Ia ingin bertemu dengan Dimas untuk menyerahkan kado ulang tahun yang lupa dibawa olehnya kemarin malam. Kata Rita temen sekelasnya, Ia melihat Dimas ada di taman belakang sekolah.
Dinda menghentikan langkahnya saat ia melihat Dimas bersama Rio cs. ‘Kenapa Dimas bersama Rio ,ya?’ pikir Dinda heran. Ia bersembunyi dibalik sudut tembok dan menguping perbincangan mereka.
“Aku sudah bilang aku tidak mau menerimanya. Dia bukan lagi barang taruhan,” Ujar Dimas tegas.
“Oke. Terserah kamu saja. Tapi janji tetaplah janji. Aku bukan tipe cowok yang melanggar janji. Aku akan berhenti mengganggu Tania. Sepupumu, dan juga ini,” Ujar Rio sambil menyodorkan kunci berbandul Jaguar “Sebenarnya Aku masih tidak percaya Dinda jatuh cinta dalam rayuan gombalmu, usahaku dulu mendekatinya tidak pernah digubris,” gerutu Rio yang masih terdengar ditelinga Dinda.
Tak terasa matanya mulai mengabur. Setetes air keluar dari mata Kanannya di susul dengan yang lainnya secara silih berganti. Ia mencengkram kado yang ada di tangannya dengan kuat. “Sakit. Kenapa harus sesakit ini?” Pikir Dinda dalam hati.
“Sudah aku katakan aku tidak mau,” teriak Dimas.
“Alah, terima saja. Anggap itu hadiah ulang tahunmu. Bukankah kemarin kamu berulang tahun?” sahut Raka yang berdiri tepat di samping Rio.
“Bukankah satu bulan yang lalu aku sudah mem..”
PRAAANNNGGG
Terdengar suara benda yang pecah. Dimas dan Rio cs menoleh ke arah sumber suara. Dimas membulatkan matanya saat ia mendapati Dinda berdiri dengan tangan menutup mulutnya.
“Dinda,” gumam Dimas lirih. Saat ia melangkah menghampiri Dinda, Dinda pun juga mundur sedikit demi sedikit.
“Dengarkan aku dulu Din. Kamu harus percaya padaku,”
“Percaya? Dengan seorang pembohong?”
“Tidak. Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu,” kata Dimas frustasi.
“Aku sudah mendengar semuanya. Tidak ada yang perlu di jelaskan,” ujar Dinda dengan suara bergetar. Tanpa berlama – lama lagi Dinda membalik badannya lalu pergi meninggalkan Dimas.
Dimas mengejarnya lalu meraih tangan Dinda agar ia tidak pergi.
“Din...”
“Lepaskan. Aku mohon,” kata Dinda sambil sesenggukan. Dimas melepas tangan Dinda sesuai permintaannya.
“Sebaiknya sampai disini saja hubungan ini,”
“Tapi Din...”
Dinda memotong perkataan Dimas “Aku tidak ingin melihatmu lagi Dimas,” Dinda melangakah pergi meninggalkan Dimas yang hanya berdiri mematung. Kaku.
*********
Selama seminggu Dimas tak henti – hentinya pergi ke rumah Dinda atau kemanapun Dinda pergi. ia ingin berusaha minta maaf kepadanya. Dia juga tidak ingin hubungannya dengan Dinda putus. Karena Dimas sangat mencintai gadis itu. Hanya gadis itu yang membuat hatinya berdebar – debar. Hanya gadis itu yang membuatnya rindu setiap hari. Hanya gadis itu yang paling di inginkan di dunia ini.
Gadis itu seperti oksigen bagi Dimas. Tanpanya ia tidak akan bisa bernafas. Tanpanya hidupnya kacau. Seperti Hari ini, Ia datang lagi ke rumah Dinda berharap Dinda mau keluar dan mendengarkan penjelasannya. Hanya itu saja. Setelah itu Ia akan menerima semua keputusan Dinda. Apapun itu.
Dimas melihat Dinda keluar rumah. Tampilannya tidak berbeda jauh dengannya saat ini. Kacau. Wajahnya pucat. Terlihat sekali bahwa Ia sangat lelah.
“Hai,” Sapa Dimas kaku.
“Waktumu lima menit. Apa yang ingin kamu bicarakan,” ujar Dinda ketus.
Dimas menghela nafas panjang. “baiklah. Lima menit. Aku harap kamu dapat mengerti,” Dimas mengatur dirinya yang gugup.
“Memang aku taruhan dengan Rio untuk mendapatkanmu. Tapi waktu itu aku terpancing emosi. Mereka mengatakan bahwa Rio tidak akan mengganggu Tania lagi. Tania adalah sepupu perempuanku yang sering sekali drop karena sakitnya. Aku sudah berjanji kepada Ibunya untuk menjaganya. Itu juga alasan kenapa aku sekolah disini,” Dimas menghela napas sejenak.
“Awalnya niatku hanya untuk memenangkan taruhan ini. Tapi lama - kelamaan  aku menyesal pada diriku sendiri. Menyakiti seorang gadis yang begitu ceria, pintar, manis, baik dan mempu menggetarkan hatiku. Lama kelamaan aku suka semua tentang kamu. Apalagi kita semakin dekat kerena Writing Contest itu. Aku berani menyatakan cinta kepadamu karena sehari sebelum aku menembakmu aku sudah putuskan perjanjian bodoh itu. Aku bisa menjaga Tania tanpa harus menyakitimu, apa kau percaya?” Dimas mengakhiri penjelasannya sambil memandang ke arah Dinda.
Dinda dapat melihat tatapan Dimas yang jujur dan tulus. Sama sekali tidak ada kebohongan dimatanya. Cepat – cepat ia mengalihkan perhatiannya ke jam tangannya. “Waktumu habis,” hanya itu yang keluar dari bibirnya. Padahal bukan itu yang ingin dia katakan.
Dimas menghela nafas panjang. Seharusnya ia tidak mengharapkan jawaban yang lebih dari Dinda. “Aku hanya ingin mengatakan itu saja. Semuanya terserah padamu,” Dimas membalikkan badannya dan siap beranjak pergi dari rumah Dinda.
“Hei. Mau kemana? Aku belum memberikan jawabanku,” ujar Dinda. Dimas membalik badannya dan mendapati Dinda tersenyum manis kearahnya “Aku percaya. Aku percaya padamu,” tanpa basa – basi Dimas langsung menghampiri Dinda dan memeluknya erat.
“Terima kasih. Terima kasih untuk percaya padaku,”
“Jangan senang dulu,” Dinda melepas pelukan Dimas. “Ada syaratnya.”
“Apa? Syarat?”
**********
“Kenapa menyuruhku untuk naik angkutan umum? Bukankah lebih enak jika kita pakai mobilku saja? Lagipula hari ini hujan,” tanya Dimas heran.
“Jangan protes. Ini syarat yang mudah kan? Apa kamu mau jika aku tidak memaafkanmu?”Dimas hanya terdiam mendengar perkataan Dinda.
“Dim, Coba berdiri di sana dan lihat sudah ada bus apa belum,” perintah Dinda sambil menunjuk tepi jalan. Dimas melangkah ke arah yang ditunjuk Dinda sambil membawa payungnya. Tapi sayang, ada sebuah mobil lewat di genangan air dekat dengan Dimas. Sehingga cipratan air mengotori baju dan celana Dimas.
“DASAR MOBIL SIALAN,” Umpat Dimas karena mobil itu tetap berjalan tanpa susah – susah berhenti.
Dinda tertawa terbahak – bahak melihat Dimas sampai – sampai ia memegangi perutnya.
“Kamu sengaja ya?” Selidik Dimas melihat Dinda tertawa puas. “Hei, berhenti tertawa,” ujar Dimas kesal.
“Ha. . ha . . ha. . Kamu lucu sekali. Dendamku sudah terbalas,”
“Apa? Dendam?”
“Kamu gak ingat waktu pertama kali kita bertemu? Kamu membuat seragamku kotor hingga aku harus kembali ke rumah untuk menggantinya. Aku juga terlambat dan kena hukuman gara – gara kamu,” Dinda menjelaskan dengan tampang kesalnya mengingat kejadian waktu itu. Dimas hanya melongo mendengar penjelasan Dinda.
Sebuah Bus berhenti di dekat mereka. Tanpa banyak basa – basi Dinda langsung masuk ke dalam bus. “Samapi ketemu di sekolahan Sayang,” Dinda memberi Kiss Bye kepada Dimas yang masih terdiam.
“Hei. Jangan tinggalkan aku. Pacar macam apa kamu?” teriak Dimas . Dinda hanya tertawa dan menanggapi Dimas dengan lambaian tangannya.

~~~~ Selesai ~~~~

Oleh : Desy Oxvita Sari

You Might Also Like

0 komentar: