Antara Cinta dan Persahabatan

9/25/2013 02:10:00 PM desie okvita 0 Comments


Adegan 1
                Suatu pagi di sebuah sekolah, ada dua siswa duduk pada meja paling depan. Mereka adalah Budi dan Ferdi yang sudah bersahabatan dari kelas 7 SMP hingga sekarang. Ferdi yang mempunyai sikap pendiam sangat bertolak belakang dengan Budi yang bersikap aktif sehingga mereka saling melengkapi satu sama lain. Sampai-sampai mereka di sebut “duo DI” oleh teman-temannya yang berasal dari dua huruf terakhir dari masing-masing nama mereka.
Mereka asik saling berbincang hingga teman yang baru datang dan memberi salam kepada mereka hanya di abaikan.
Budi       : “Ia melasat begitu saja, bolanya pun tak lepas dari giringannya. Pokoknya tak ada yang bisa menghadangnya dech! Semua lawannya pasti KO.” (Sangat semangat menceritakan).
Ferdi      : “Tck, kamu bicara begitu karena itu Klub favoritmu plus mereka beruntung menang tadi malam.”
Budi       : “Bilang saja lo iri melihat klub favoritku menang melawan klub favoritmu.”
Ferdi      : “Boleh tanya sesuatu”
Budi       : “Apa?”
Ferdi      : “Apa yang akan kamu lakukan jika
kamu udah menyukai seseorang cukup lama tapi kamu tidak berani untuk mengungkapkannya?”
Budi       : “Lo suka ama seseorang?”
Ferdi      : “Udah dech. Jawab aja.”
                Desy datang tiba-tiba ke meja mereka.
Desy      : (menggebrak meja) “Yee, cerita mulu kalian. Gak denger bel masuk ya? Cepet gih ke lapangan buat upacara, mau di marahin ama pak Kardi lagi apa?” (berjalan meninggalkan Ferdi dan Budi)
Budi       : “Ayo, gue ogah di ceramahin lagi.” (mengambil Topi yang ada di dalam tas lalu pergi meninggalkan kelas)
Ferdi      : “Woy, Tunggu.” (berlari menyusul Budi)
Adegan 2
                Ferdi duduk di teras rumah Tina, temannya dari kecil untuk belajar Kimia yang sulit di pelajari sendiri oleh Ferdi.
Tina        : “Untuk mencari Tb dan Tf cari dulu Molarnya. Terus tinggal masukkin aja semua data yang udah di ketahui, dan di hitung dech!
Ferdi      : (Hanya memandangi Tina dengan kagum)
Tina        : “Jelas kan Fer?” (menoleh memandang Ferdi). “Ih,, Kamu bukannya dengerin aku malah liatin aku mulu sih.”
Ferdi      : (tersenyum) “Maaf, em bisa jelasin lagi?”
                Tiba-tiba datang Desy mengucapkan salam dan heran melihat Ferdi ada di rumah Tina.
Ferdi      : “Kamu kenal Tina dari mana?”
Desy      : (Berjalan mendekati Tina dan duduk disampingnya)“ Tina itu temen SMPku.” (merangkul bahu Tina).
Tina        : “Kamu enggak tahu fer? Padahal dia udah cerita banyak tentang Dua DI ke aku.”
Desy      : “Hush, jangan bongkar dong Tin.” (melepas rangkulannya pada Tina dan menunjukkan ekspresi marah)
                Tak lama kemudian Budi datang sambil mengucapkan salam.
Ferdi      : “Darimana kamu tahu kalau aku ada di sini?”
Budi       : “Ibumu nunjukkin gue kalau elo ada di sini, ya udah dech aku nyusul kamu ke sini. Lagipula jaraknya gak terlalu jauh” (memandang ke arah Tina dan Desy lalu tersenyum ke arah Tina)
Ferdi      : “Oh., Kenalin ini Tina temenku dari Kecil” `
Budi       : “Budi” (menatap Tina sambil tersenyum)
Tina        : “Tina” (Tina menyambut uluran tangan Budi dengan salah tingkah dan malu di pandangi oleh Budi)
Desy      : “ Bener kata orang ya. virus merah jambu itu cepet nyebar. Love at the first sight lah istilahnya” (Canda Desy setelah Tina melepas jabat tangannya dari Budi sambil menyenggolnya pelan)
Budi       : “Ck, Kenapa gak pernah bilang kalau di deket rumahmu ada cewek semanis dia?” (menyenggol pelan dan memandangi Tina yang sedang bercanda dengan Desy )
Adegan 3
                Ferdi dan Budi ada di Kelas saat jam istirahat. Mereka sedang mencatat pelajaran Bahasa Indonesia yang di pinjamnya dari Desy. Budi menyelingi mencatatnya dengan SMSan entah dengan siapa.
                Saat Budi menerima SMS ia selalu tersenyum sendiri.
Ferdi      : “SMS dari siapa sih? Akhir-akhir ini aku perhatikan kamu sering tersenyum jika nrima SMS.”
Budi       : “Ah, yang bener? Kayaknya biasa-biasa aja tuh!”
Ferdi      : “Lagi deket ama Cewek ya? Siapa cewek yang beruntung itu?”
Budi       : “Lo tau aja kalo gue lagi deket ama cewek. Lo kenal ko cewek itu, dia....
Vira        : (memotong pembicaraan)“Budi... Lo di panggil Bu Endras tuh. Di suruh ke kantor sekarang”
Budi       : “OK. Gue akan ke sana.  Gue ke kantor dulu ya, di sambung nanti.” (berlari keluar kelas).
Desy      : “Tck, kayaknya dia seneng karena bisa SMSan ama Tina tiap hari.” (tiba-tiba duduk di samping Ferdi)
Ferdi      : “Apa? SMSan ama Tina?”
Desy      : “He’e. Dia sendiri yang malemnya SMS aku dan minta nomer Tina. Kenapa?”
Ferdi      : “Ah, gak apa-apa” (menggelengkan kepala).
Adegan 4
                Beberapa hari setelah kejadian itu, Ferdi selalu murung apalagi saat tahu Budi sedang SMSan dengan Tina. Ia jarang berkomunikasi dengan Budi. Jika Budi bertanya sesuatu ia hanya menjawabnya pendek-pendek, tidak seperti biasanya.
                Apalagi saat Budi memberitahu Ferdi jika Ia sudah menyatakan cinta ke Tina dan Tina menerimanya. Ia tambah menjadi pendiam kepada siapa saja dan tidak memperdulikan Budi lagi. Ia juga menukar posisi duduknya dengan Dodi sehingga mereka tidak lagi sebangku. Budi juga tidak tinggal diam. Ia selalu mencari kesalahannya terhadap Ferdi dan selalu  mendekati untuk menanyakannya.
Budi       : “Ada apa dengan loe sih fer? Apa salah gue hingga lo diemin gue sampai segininya? Omong dong fer. Jadi gue bisa memperbaiki kesalahan gue.”
Ferdi      : (diam masih membaca buku yang di pegangnya)
Budi       : “Fer, ngomong dong. Salah gue apa. Gue akan berusaha memperbaikinya”
Ferdi      : (menutup bukunya dan menaruhnya dengan kasar)“memperbaikinya? Apa kamu bisa, hah? Kamu gak tahu gimana rasanya di sini (memegang dada sebelah kiri). Aku sudah mengenalnya lebih dulu dari kamu, aku juga sudah sayang ke dia dari dulu sebelum kamu. Tapi apa? kamu menusukku dari belakang. Kamu yang baru beberapa hari mengenalnya malah bisa mendapatkanya dengan mudah. seharusnya kamu tidak datang di kehidupanku. Aku kecewa padamu.
Budi       : “Siapa yang lo maksud? Gue gak ngerti”
Ferdi      : “Siapa lagi kalau bukan Agustina Maghfiroh. Orang yang aku cintai dari dulu” (meninggalkan kelas beitu saja)
Desy      : (memegang bahu Budi) “Kamu tidak apa-apa?”
Budi       : (pergi begitu saja meninggalkan Desy)

Adegan 5
                Tina dan Budi duduk berhadapan di sebuah restoran.
Tina        : “Sebaiknya kita akhiri sampai di sini”
Budi       : “Apa?”
Tina        : “Aku ingin kita putus”
Budi       : “Kenapa?”
Tina        : “Aku tidak ingin persahabatanmu dengan Ferdi pecah hanya gara-gara aku. Aku tidak ingin menjadi sumber masalah di antara kalian. Tolong mengertilah!”
Budi       : “Aku bisa menjelaskan segalanya ke Ferdi. Tapi tolong jangan seperti ini.”
Tina        : “Maafkan aku, aku harus segera pergi sekarang.” (mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan Budi)
Budi       : “Tin...Tina....” (bangkit mengejar Tina)
                Di sisi lain Ferdi sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah Desy yang kebetulan mereka satu kelompok.
Ferdi      : (mengetik di Leptop)
Desy      : “Kalian masih marahan?” (memandang Ferdi yang masih sibuk dengan Leptopnya)
Ferdi      : “Maksudnya?”
Desy      : “enggak usah berlaga gak tahu dech. Kamu tahu maksudku kan? (kesal)
Ferdi      : “Ya. Kami masih marahan. Puas?”
Desy      : “Jangan bersikap seperti ini, Fer. Apa kau tidak kasihan pada Budi? Ia sangat mencintai Tina.”
Ferdi      : “Kasihan? Lalu bagaimana dengan ku? Apa kau tak kasihan?
Desy      : “Tina tidak mencintaimu Fer, Ia hanya menganggapmu sebagai sahabat tidak lebih. Kamu bisa mencari yang lain jika kamu mau.
Ferdi      : “Kamu tidak mengerti perasaanku Des. Jangan mencoba ikut campur dalam urusanku.”
Desy      : “Aku tahu rasanya Fer. Karena aku pernah mengalaminya sendiri. Aku berkata begini karena aku peduli. Kamu harus belajar merelakannya”
Adegan 6
                Setiap hari Ferdi selalu memikirkan perkataan Desy. Ia melamun sambil berjalan dan tak terasa bahwa ia berjalan sedikit ke tengah. Hingga sebuah teriakan menyadarkan dari lamunannya dan menarik tangannya dengan kuat hingga ia terjatuh dan kepalanya terbentur sesuatu.
                Ferdi pun segera di larikan ke rumah sakit setempat.
Desy      : “Hey Fer. Sudah baikan?  Ada yang ingin menemuimu, Apa mereka boleh masuk?”
Ferdi      : “Ya” (Mengangguk) “Tunggu” (mencegah Desy yang hendak ingin keluar) “Apakah aku boleh tahu siapa yang menyelamatkanku waktu itu?”
Desy      : “Budi. Budi yang menyelamatkanmu”
                Tak lama kemudian pintu terbuka dan masuklah Desy, Budi dan di susul Tina.
Tina        : “Hai, Fer. Bagaimana keadaanmu?”
Ferdi      : “Baik, daripada kemarin”
Budi       : “maafin gue jika selama ini gue selalu buat salah dan gue ingin menjelaskan sesuatu Fer. Gue gak ingin ada salah paham lagi. Antara aku dan Tina sudah tidak ada apa-apa lagi. kami sudah sepakat untuk mengakhiri semuanya.
Tina        : “Maafkan aku Fer. Gara-gara aku persahabatan Duo DI jadi kacau.
Ferdi      : “Kenapa? Kenapa Kalian melakukan ini?”
Budi       : “Karana gue gak ingin hanya gara-gara Cinta, persahabatan kita jadi hancur. Kita sudah cukup lama bersahabat, belum pernah ada yang seperti elo selama ini. Memang ada istilah mantan kekasih dalam kamus hidupku, tapi gue gak pernah menulis kata mantan sahabat di kamusku. Lo itu seperti bintang, gue gak selalu bisa lihat lo tapi gue tahu lo selalu ada.”
Ferdi      : “terima kasih, kau memang sahabat yang paling baik dan mengerti aku. Maafkan aku atas sikap kekanak-kanakkanku (Menundukkan kepala) “Kalian tidak harus mengorbankan hubungan kalian hanya demi aku” (mengambil tangan Tina dan Budi lalu menyatukan tangan mereka)
Tina        : “Kenapa?”
Ferdi      : “Karena aku juga tidak ingin menghancurkan hubungan orang yang saling mencintai” (tersenyum tulus)
Budi       : “Terima kasih banyak Fer”
Ferdi      : (Mengangguk sambil tersenyum)
Desy      : (merangkul bahu Tina) “Jadi, bisakah aku dan Ferdi mendapatkan satu mangkuk mie ayam plus minumnya dengan gratis”
Budi & Tina : (mengangguk kecil)

Semua  : “ha..ha..ha..” (tertawa bersama)

You Might Also Like

0 komentar: